Runtuhnya Vietnam Selatan
A. Latar Belakang Runtuhnya Vietnam
Selatan
![]() |
sumber : Vovworld.vn |
Pihak
Vietnam Selatan berkeberatan dengan alasan bahwa pemilihan umum secara bebas
tidak mungkin dilaksanakan selama Vietnam Utara di bawah kekuasaan komunis.
Ajakan Vietnam Utara untuk mengadakan konferensi, konsultasi guna membicarakan
pemilihan umum hanyalah propaganda komunis untuk meyakinkan rakyat agar mereka
diakui sebagai pemrakarsa penyatuan wilayah nasional. Vietnam Selatan juga
menyatakan tidak akan mematuhi persetujuan itu, karena merasa tidak ikut
menandatangani.
Dengan
demikian terdapat dua Vietnam yang saling bertentangan. Akhirnya pertentangan
kedua pihak Vietnam memuncak yang mengakibatkan pecahnya perang saudara.
Masing-masing pihak dibantu oleh negara adidaya. Pemerintah Amerika Serikat
melakukan intervensi dengan mengirimkan pasukan dan peralatan militernya ke
Vietnam Selatan untuk mempertahankan negara ini dari pasukan RDV yang mendapat
bantuan personel dan peralatan militer dari Uni Soviet dan Republik Rakyat Cina
(RRC).
Jatuhnya
Vietnam Selatan pada Vietnam Utara tanggal 30 April 1975 menjadi titik awal
orang Vietnam yang non komunis melakukan pengungsian ke luar dari negaranya.
Pada umumnya mereka melarikan diri ke negaranegara di Asia Tenggara. Mereka
meminta suaka untuk kemudian bertempat tinggal di negara ketiga melalui jasa
lembaga United Nations High Commissioner for Rafugees (UNHCR). Manusia
pengungsi asal Vietnam ini kemudian lebih dikenal dengan sebutan “manusia
perahu”. Sejak tahun 1975 Indonesia merupakan salah satu negara di kawasan Asia
Tenggara yang
Permulaan
kedatangan para Pengungsi Vietnam ke Indonesia dimulai sejak tanggal 22 Mei
1975.3 Khusus bagi Indonesia kedatangan para Pengungsi Vietnam ditandai untuk
pertama kalinya dengan singgahnya sebuah kapal motor Pengungsi Vietnam di Pulau
Laut yang terletak di bagian Utara Pulau Natuna.4 Sebagian besar dari pada mereka
itu sampai dengan 1978 hanya lewat saja dalam perjalanan ke negara ke tiga,
terutama Australia. Akan tetapi sebagian dari pada mereka itu memang dengan
maksud untuk mendarat di wilayah Indonesia. Mungkin sebagian dengan maksud
untuk menetap dan sebagian lagi untuk berusaha dari Indonesia menuju secara sah
ke negaranegara maju dengan status sebagai pengungsi dengan segala
fasilitasfasilitasnya
Pada
bulan yang sama pengungsi Vietnam mendarat lagi di pulau laut sejumlah 12
orang, yang terdiri dari laki-laki, wanita, dan anak-anak. Berikutnya, menyusul
sejumlah lebih kurang 4.000 orang pengungsi Vietnam mendarat di Kecamatan
Jemaja, Kepulauan Anambas. Dari tahun 1979-1980 kedatangan pengungsi Vietnam di
Pulau Jemaja lebih kurang 40.000 orang, selebihnya tersebar di berbagai pulau.
Para Pengungsi Vietnam tersebar di berbagai pulau, di pulau Letung, pulau
Karamon, pulau Berhala dan pulau Kuku
Mengalirnya
arus pengungsi Vietnam ke negara-negara ASEAN patut diduga ada unsur
kesengajaan walaupun tidak diakui oleh Pemerintah Vietnam. Pada tahap
permulaan, pengungsi Vietnam mendapat perhatian besar sebagai iklan politik dan
menjadi policy negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, kemudian juga
Eropa dan Australia dengan prinsip kemanusiaan. Dengan prinsip tersebut
negara-negara Amerika dan Eropa memberikan kemudahan suaka politik bagi
pengungsi Vietnam didasarkan atas keyakinan politiknya.
Indonesia
sebagai salah satu negara anggota ASEAN, ikut merasakan dampak negatif
membanjirnya pengungsi Vietnam.6 Bahkan sejak timbulnya kasus 2.500 pengungsi
Vietnam yang diangkut oleh kapal Hai Hong mendarat di Malaysia, Pemerintah
Malaysia menganggap bahwa yang datang itu bukan pengungsi murni, tetapi
rombongan imigran gelap, karena melihat jumlahnya yang besar itu mereka agaknya
diorganisasi sejak sebelum keberangkatannya
Dalam
upaya memecahkan masalah pengungsi Vietnam, pada bulan Februari 1979 para
Menteri Luar Negeri ASEAN berkumpul di Bangkok. Pertemuan ini menghasilkan
kesepakatan, yang dikenal dengan Statement “Bangkok 21 Februari 1979”, yang isi
pokoknya adalah : Negara ASEAN setuju bekerjasama untuk saling meringankan
beban dalam menangani masalah pengungsi Vietnam dengan menyiapkan tempat
sebagai Pusat Pemrosesan. Fungsi dan tugas Pusat Pemrosesan adalah sebagai
tempat transit pengumpulan data dalam batas waktu tertentu, sebelum diambil
alih oleh negara ketiga.
A. Tokoh Yang Terlibat Di Vietnam
Selatan
1. Ho Chi
Minh
Minh di sekolahkan si sekolah Perancis,
yaitu Akademi Nasional. Saat bersekolah di sini, Minh mulai bersikap kritis.
Baginya sebuah hal aneh jika Perancis terkenal dengan slogan “Kebebasan,
Persamaan, dan Persaudaraan”, tetapi dalam kenyataannya melakukan penjajahan di
atas Indo-Cina.[5] dalam kehidupannya Minh banyak dipengaruhi oleh berbagai
faktor kejadian yang ada, dia sangat berfikir kritis dalam segala hal.
Minh sangat terpengaruh oleh berbagai
perkembangan yang ada di negeri Cina. Minh sempat merantau hingga ke Perancis,
di sana dia bekerja diantarnya menjadi juru masak. Setelah berkeliling ke
berbagai negara, selama 1917-1923 Minh menetap di Paris dan bekerja sebagai
pembantu seorang fotografer. Pada masa inilah ia mulai secara serius
mempelajari karya-karya Karl Marx dan penulis kiri lainnya.
Akibatnya Minh mulai terjun secara langsung
kedalam polik haluan kiri, dia semakin aktif dan semakin dikenal oleh orang
banyak dengan sikapnya yang sangat berani menentang kekuasaan Perancis. Ho Chi
Minh mulai aktif dalam kegiatan Komunis Internasional, dia
mengikuti berbagai pertemuan yang ada di Rusia dan Cina. Minh nyaris kehilangan
nyawanya saat gagal dalam melakukan pemberontakan terhadap Perancis, namun dia
berhasil lari ke Hongkong, sejak saat itu juga Minh sering sekali mengganti
namanya.
Saat Jepang menguasai Vietnam, Minh
sangat menentang Fasisme, dia beranggapan bahwa Fasisme lebih berbahaya dari
pada Imperialisme dan Kapitalisme, hal ini berbeda dengan golongan Nasionalis
Vietnam yang lain. Mereka bekerja sama dengan Jepang, hal ini juga menyebabkan
naiknya popularitas Minh dalam Masyarakat.
Pada 10 Mei 1941, di Pegunungan Marx,
bersama kaum komunis Vietnam lainnya, terbentuklah Vietminh (Liga Pembebasan
Vietnam). Sayap organisasi militer baru ini dipimpin oleh Jenderal Vo Nguyen
Giap
2. Ngo
Dinh Diem
Diem menerima jabatan tersebut dan
menyingkirkan kaisar dalam cara referendum curang pada 1955. Tak lama setelah
itu Diem menyatakan dirinya sebagai Presiden Vietnam Selatan.[8] Diem yang
disokong oleh Amerika melakukan pembangunan dan ingin memulihkan kondisi
Vietnam Selatan dari pengaruh Komunis yang terus masuk dari Vietnam Utara.
Salah satu segi kelemahan pemerintahan Ngo Dinh
Diem, terletak dalam sistem dan tata pelaksanaan politiknya. Ia sangat
menyandarkan diri pada partai Can Lao, yang dipimpin oleh adiknya sendiri,
yakni Ngo Dinh Nhu dan istrinya Tran Le Xuan yang sangat ambisius. Parta Can
Lao itu bertindak sebagai agen rahasianya dan menguasai Gerakan Revolusi
Nasional. Sekalipun saudara, tetapi banyak pandangan dan tindakan Ngo Dinh Nhu
sangat berlainan dengan Ngo Dinh Diem sendiri. Sungguh sangat tercela tindakan
iparnya Tran Le Xuan, yang bertindak seakan-akan menjadi Ratu Vietnam. Karena
memang Ngo Dinh Diem tetap masih membujang, maka segala sesuatu mengenai rumah
tangga di kediaman resminya di Saigon, diatur oleh Tran Le Xuan. Di samping
itu, Tran Le Xuan dengan secara mencolok mengumpulkan banyak harta benda dan
menguntungkan sanak keluarganya dengan mengankat mereka dalam jabatan negara
yang penting-penting, segingga banyak menimbulkan kemasgulan
3. Nguyen Van Thieu
Nguyen Van Thieu (lahir 1923 – meninggal
2001) adalah Presiden Vietnam Selatan dari tahun 1965-1975. Setelah periode
krisis akibat kudeta terhadap Ngo Dinh Diem, Nguyen Van Thieu menjadi pemimpin
Vietnam Selatan dalam perang melawan pasukan komunis Vietnam Utara. Sikap Thieu yang diktator dan tidak
kompeten membuat Vietnam Utara semakin merambah wilayah Vietnam Selatan. Setelah
operasi Tet pada tahun 1968, Amerika Serikat mulai melihat perang Vietnam
sebagai kegagalan, dan menarik pasukannya.
A. Keterkaitan Amerika Serikat Dengan
Vietnam Selatan
Pada tanggal 19 Mei 1941, Ho Chi Minh
seorang nasionalis Vietnam memmbentuk sebuah organisasi yang dinamakan Viet
Minh (Liga Kemerdekaan Vietnam) yang berada dibawah kekuasaan partai komunis.
Tujuan Viet Minh adalah untuk melenyapkan dominasi Perancis dan Jepang yang
waktu itu mewarnai percaturan politik di Vietnam. Pada saat inilah Amerika
Serikat melalui OSS (Office of Strategic Services atau Dinas Strategi) masuk
untuk membantu gerilyawan anti Jepang.
Pada 2 September 1945 Ho Chi Minh
memproklamasikan berdirinya Republik Demokrasi Vietnam (RDV). Dengan basis
kekuatan Ho Chi Minh berada di Vietnam Utara. Tanggal 5 Oktober 1945 Perancis
berhasil menguasai kota-kota di Vietnam Selatan. Sementara kekuatan Ho Chi Minh
di Utara semakin kuat. Pemerintah Perancis berusaha berunding dengan Ho Chi
Minh yang berpusat di Hanoi untuk merundingkan masalah kemerdekaan dan status
Vietnam. Namun mengalami kegagalan, sehingga pada tanggal 25 Januari 1954
terjadi pertempuran antara Perancis dengan pihak Ho Chi Minh yang menyebabkan
Perancis mengalami kekalahan.
Ho Chi Minh mengakhiri perang dengan
Perancis dengan kemenangan telak dalam pertempuran di Dien Bien Phu, 7 Mei
1954. Perancis menyerah dengan terpaksa karena pengepungan yang dilakukan oleh
tentara Viet Minh, yang menyebabkan perbekalan pasukan Perancis habis. Sebanyak
9.500 pasukan Perancis ditangkap. Hal ini merupakan kekalahan paling buruk
dalam sejarah colonial Perancis. Sehari setelah kemenangan itu, utusan dari
Viet Minh dan Perancis berunding di Jenewa dan mereka menandatangani beberapa
kesepakatan.
Kesepakatan penting dalam persetujuan Jenewa
adalah bahwa untuk sementara Vietnam dibagi menjadi dua bagian yaitu Vietnam
Utara dan Vietnam Selatan dengan batas garis 17o LU. Ho Chi
Minh sebagai sebagai pemipin Viet Minh setuju dengan pembagian tersebut. Ia
berprinsip “Independent and unity” (kebebasan dan persatuan), pasukan
Viet Minh kemudian menyerang selatan. Perancis sebenarnya tidak rela melepaskan
Vietnam. Perancis mencoba menjatuhkan Ngo Dinh Diem (Presiden Vietnam Selatan)
dengan mambujuk Amerika Serikat untuk menghentikan bantuannya yang semula
disalurkan melalui Perancis. Mengetahui siasat Perancis tersebut, Amerika
Serikat memberikan bantuan langsung kepada Vietnam Selatan.
Menurut Amerika Serikat invansi komunis
hanya bisa dibendung dengan kekuatan militer. Oleh karena itu, untuk memperkuat
pertahanan Vietnam Selatan, Amerika Serikat menempatkan sejumlah 460.000
pasukan udara dan laut. Mulai tahun 1955 Amerika Serikat benar-benar menjadi
pertahanan bagi Ngo Dinh Diem. Lebih dari 100 opsir di bawah Jenderal Samuel
William juga didatangkan untuk melatih tentara Vietnam. Untuk menghadapi
serangan dari Vietnam Utara dibentuk pasukan collective defenceyaitu
pasukan gabungan antara Amerika Serikat dan Vietnam Selatan.
Setidaknya Amerika “terpaksa” terlibat lebih
dalam di Perang Vietnam ini, manakala kekuatan udara yang bermarkas di Jepang
dilibatkan untuk bergerak maju dan menyerang sasaran di Utara. Diawali
pengerahan kekuatan udara dan pangkalan di Okinawa, Jepang untuk bergerak maju
ke Danang, Vietnam Selatan pada 31 Januari 1965, Amerika mulai melibatkan jet
tempur jenis F-105. Pengerahan kekuatan udara dari Tactical Fighter Wing ke 18
ini menunjukan kekhawatiran Amerika dalam menghadapi Vietnam Utara yang
bersemangat bergerak ke Selatan.
Di Washington, John F. Kennedy baru
menggantikan Eisenhower sebagai presiden. Sebelum menyerahkan jabatannya,
Eisenhower berpesan kepada Kennedy mengenai vitalnya persoalan Indochina bagi
kepentingan global Amerika Serikat dalam Perang Dingin. Apabila Vietnam Selatan
sampai jatuh ke tangan kaum komunis Utara, maka seluruh Asia Tenggara juga akan
ambruk. Para pembantu terdekat Kennedy kebetulan adalah tokoh bergaris keras, terutama Menlu
Dean Rusk, Menhan Robert McNamara, dan Ketua Dewan
Keamanan Nasional McGeorge Bundy. Mereka mendesak
Kennedy untuk segera melakukan intervensi militer ke Vietnam. Namun negara
sekutu utama, Inggris dan Perancis mengingatkan Amerika Serikat jangan terlalu
jauh terlibat di Vietnam. Terutama Perancis yang sudah mengalami sendiri
pahitnya menghadapi perlawanan orang Vietnam.
Posisi Kennedy pun sulit, karena Partai
Republik yang merupakan lawan politiknya selalu menekankan bahwa dialah yang
`akan paling bertanggung jawab’ apabila Asia Tenggara sampai hilang. Kennedy
yang baru mengalami pukulan sebagai akibat kegagalan CIA dalam peristiwa
penyerbuan Teluk Babi di Kuba, tidak mau mengulang kekalahan tersebut. Karena
itu sekalipun dia masih sungkan untuk melakukan intervensi militer langsung,
namun akhirnya Kennedy mulai mengirim personel militer Amerika ke Vietnam
Selatan, dengan tugas utama sebagai penasihat/ pelatih.
![]() |
Sumber : http://warofweekly.blogspot.com
|
Tetapi karena pasukan VC semakin kuat dan
menyebar ke seluruh Vietnam Selatan, maka jumlah personel Amerika Serikat itu
pun terus ditambah, dan tugas mereka bukan lagi hanya sebagai penasihat
melainkan sering ikut bertempur langsung melawan VC. Menjelang akhir 1963,
jumlahnya sudah melonjak hingga 16.000 orang. Untuk mengetahui kondisi
sebenarnya di lapangan, Presiden Kennedy mengirim penasihat Gedung Putih Walt
Rostow dan penasihat milker Jenderal Maxwell D. Taylor ke Vietnam Selatan.
Dalam laporannya, misi pencari fakta itu menunjukkan betapa situasi sebenarnya
sudah kritis, baik kemiliteran di lapangan maupun politik di Saigon.
Mereka mengusulkan pengiriman 8.000 pasukan
infanteri untuk langsung membantu menumpas gerilyawan VC di Delta Mekong yang
strategis. Namun jumlah ini dianggap terlalu kecil. Menhan Mc Namara tak
tanggung-tanggung mengusulkan pengiriman 200.000 pasukan. Dalam situasi seperti
ini, Kennedy pun mengeluarkan apa yang disebutnya sebagai “Doktrin
Kredibilitas”, untuk memperlihatkan kepada kawan maupun lawan bahwa Amerika
Serikat akan konsekuen dengan semua komitmen dan melaksanakannya secara tegas,
sehingga Amerika Serikat dapat diandalkan. Doktrin ini sekaligus menegaskan
bahwa determinasi Amerika Serikat untuk mempertahankan Vietnam Selatan
sungguh-sungguh akan dijalankan. Dengan demikian kredibilitas Amerika Serikat
di kancah internasional dapat diandalkan.
Namun dalam pikiran Kennedy, doktrin ini
tidaklah serta merta harus berupa terlibat langsung dalam perang, melainkan
membantu dengan nasihat kemiliteran, meningkatkan kehidupan ekonomi dan
kesejahteraan rakyat, mengisolasi kaum komunis agar tidak dapat berbaur ke
masyarakat dengan memindahkan penduduk ke daerah-daerah aman. Namun hal ideal
ini tidaklah menjadi kenyataan, karena situasi di Vietnam Selatan sudah parah.
Presiden Ngo Dinh Diem dengan sikapnya yang semakin keras dan jauh dari
rakyatnya sendiri, malah menjadi rintangan bagi Amerika Serikat. Karena itu,
tiga minggu sebelum John F. Kennedy tewas terbunuh di Dallas pada 23 November
1963, dia mengizinkan dilancarkannya kudeta militer terhadap Ngo pada 1
November. Presiden Vietnam Selatan itu dan adiknya yang sekaligus penasihatnya,
Ngo Dinh Nhu, terbunuh.
A. Jalannya Konflik Di Vietnam Selatan
1. Awal Konflik Perang Saudara Antara Vietnam
Selatan Dan Vietnam Utara Terjadi
Vietnam dijajah oleh Tiongkok sejak
tahun 110 SM sampai mencapai kemerdekaan pada tahun 938. Setelah bebas dari
belenggu penjajahan Tiongkok, Vietnam selalu menentang dan mengecam serangan
pihak asing.
![]() |
Sumber : https://satujam.com
|
Kemerdekaan Vietnam berakhir pada
pertengahan abad 19 AD (Setelah Masehi), ketika Vietnam dikolonialisasikan oleh
Kerajaan Perancis. Pemerintahan Perancis menanamkan perubahan signifikan dalam
bidang politik dan kebudayaan pada masyarakat Vietnam. Sistem pendidikan modern
gaya Barat dikembangkan dan agama Kristen diperkenalkan kepada masyarakat
Vietnam. Pengembangan ekonomi perkebunan untuk mempromosikan ekspor tembakau,
nila (indigo), teh dan kopi, Perancis mengabaikan permintaan akan pemerintahan
sendiri (self-government) dan hak-hak sipil yang terus meningkat. Sebuah
pergerakan politik nasionalis dengan cepat muncul, dan pemimpin muda Ho Chi
Minh memimpin permintaan akan kemerdekaan kepada League of Nations (Liga
Bangsa-Bangsa) Perancis menguasai Vietnam setelah melakukan beberapa perang
kolonial di Indochina mulai dari tahun 1840-an. Ekspansi kekuasaan Perancis
disebabkan keinginan untuk menyaingi kebangkitan Britania Raya dan kebutuhan
untuk mendapatkan hasil bumi seperti rempah-rempah untuk menggerakkan industri
di Perancis untuk menyaingi penguasaan industri Britania Raya.
Semasa pemerintahan Perancis, golongan
rakyat Vietnam dibakar semangat nasionalisme dan ingin kemerdekaan dari
Perancis. Beberapa pemberontakan dilakukan oleh banyak kelompok-kelompok
nasionalis, tetapi usaha mereka gagal. Pada tahun 1919, semasa Perjanjian
Versailles dirundingkan, Ho Chi Minh meminta untuk bersama-sama membuat
perundingan agar Vietnam dapat merdeka. Permintaan tersebut ditolak dan Vietnam
beserta seluruh Indochina terus menjadi jajahan Perancis.
Kelompok Viet Minh akhirnya mendapat
dukungan populer dan berhasil mengusir Perancis dari Vietnam. Selama Perang
Dunia II, Vietnam dikuasai oleh Jepang. Pemerintah Perancis Vichy bekerjasama
dengan Jepang yang mengantar tentara ke Indochina sebagai pasukan yang berkuasa
secara de facto di kawasan tersebut. Pemerintah Perancis Vichy tetap
menjalankan pemerintahan seperti biasa sampai tahun 1944 ketika Perancis Vichy
jatuh setelah tentara sekutu menaklukan Perancis dan jendral Charles de Gaulle
diangkat sebagai pemimpin Perancis. Perancis memelihara dominasi kontrol
terhadap koloni-koloninya hingga Perang Dunia II, ketika perang Jepang di
Pasifik memicu penyerbuan ke Indochina. Sumber daya alam Vietnam dieksploitasi
untuk kepentingan kampanye militer Jepang ke Burma, Semenanjung Malay dan India.
Pada tahun terkahir perang, pemberontakan nasionalis berpasukan muncul di bawah
Ho Chi Minh, melakukan kemerdekaan dan komunisme. Menyusul kekalahan Jepang,
pasukan nasionalis melawan pasukan kolonial Perancis pada Perang Indochina
Pertama yang dimulai pada tahun 1945 hingga 1954. Perancis mengalami kekalahan
besar pada Pertempuran Dien Bien Phu dan dalam waktu singkat setelah itu
ditarik dari Vietnam.
Setelah pemerintah Perancis Vichy
tumbang, pemerintah Jepang menggalakkan kebangkitan pergerakan nasionalis di
kalangan rakyat Vietnam. Pada akhir Perang Dunia II, Vietnam diberikan
kemerdekaan oleh pihak Jepang. Ho Chí Minh kembali ke Vietnam untuk membebaskan
negaranya agar tidak dijajah oleh kekuasaan asing. Ia menerima bantuan kelompok
OSS (yang akan berubah menjadi CIA nantinya).
Pada akhir Perang Dunia II, pergerakan
Viet Minh di bawah pimpinan Ho Chí Minh berhasil membebaskan Vietnam dari
tangan penjajah, tetapi keberhasilan itu hanya untuk masa yang singkat saja.
Pihak Jepang menangkap pemerintah Perancis dan memberikan Vietnam satu bentuk
“kemerdekaan” sebagai sebagian dari rancangan Jepang untuk
"membebaskan" bumi Asia dari penjajahan barat. Banyak bangunan
diserahkan kepada kelompok-kelompok nasionalis. Negara-negara yang berperang
dalam Perang Vietnam membagi Vietnam pada 17th parallel menjadi Vietnam Utara
dan Vietnam Selatan sesuai Perjanjian Geneva (Geneva Accords).
Keberpihakan as terhadap perancis Ho Chi
Minh mengharapkan bantuan Amerika untuk bisa lepas dari Perancis dan menegaskan
bahwa dirinya bukan Komunis. Ho Chi Minh mengharapkan negara Amerika Serikat
akan menyokong negara baru di Vietnam, walaupun negara baru itu sebuah negara
di bawah pengaruh Komunis. Harapan beliau Amerika Serikat akan mengkotakan
ucapan-ucapan Franklin D. Roosevelt yang menentang kolonialisme Eropa selepas
Perang Dunia II. Franklin D. Roosevelt ingin agar rakyat negara-negara Dunia
Ketiga menentukan nasib mereka sendiri. Ho Chi Minh pun mengirimkan surat
terpisah kepada dua belas petinggi gedung putih dan juga ke komisi luar negeri
senat AS agar mereka memahami atau memberi dukungan moral untuk menyuarakan
perjuangannya lepas dari kolonialisme Perancis. Namun AS tidak membaca suratnya
dan menolak permintaan bantuannya dan justru melibatkan diri di Vietnam dengan
membantu Perancis.
Di bawah pimpinan Harry S. Truman,
Amerika Serikat tidak membantah Perancis menduduki semula tanah-tanah
jajahannya, termasuk Vietnam, selepas tamat perang. Amerika bahkan menawarkan
ke pihak prancis dua bom atom, yang dengan penuh maaf ditolak oleh Perancis.
Setelah gagal mendapatkan bantuan dari Amerika, akhirnya Ho Chi Minh berpaling
mencari bantuan ke pihak Komunis (Uni Soviet dan Cina).
Ho Chi Minh berhasil mengalahkan
lawannya dalam pertempuran di Dien Bien Phu, 7 Mei 1954 dengan kemenangan
telak. Setelah kemenangan tersebut, diadakan perundingan di Jenewa antara pihak
Viet Minh dan Perancis, dan mereka menandatangani beberapa kesepakatan.
Kesepakatan penting dalam perjanjian tersebut membagi Vietnam untuk sementara
waktu menjadi 2 dengan garis lintang 17 derajat sebagai batas.
Orang-orang Komunis di bawah Ho Chi Minh
mendapatkan mendapatkan bagian utara, sedangakan rezim Bao Dai diberi wilayah
selatan. Dalam perundingan tersebut juga disepakati tentang penyelenggaraan
pemilu akan diselenggarakan dua tahun lagi untuk menyatukan kembali Negara
tersebut. Amerika serikat menentang penyelenggaraan pemilu nasional karena
khawatir Ho Chi Minh akan keluar sebagai pemenang. Oleh karena itu, AS menolak
untuk menandatangani persetujuan Jenewa. Bagi Amerika, jika pemilu nasional
diadakan bulan 1956 dan jika Viet Minh tidak berkeberatan hampir bisa akan
menang. Itulah mengapa AS berusaha membekengi Vietnam selatan untuk menolak
pemilu tersebut. Semua orang yang memahami masalah indocina selalu mengatakan
bahwa jika pemilu diselenggarakan di masa perjuangan, kemungkinan 80 persen
penduduk akan lebih memilih Ho Chi Minh sebagai pemimpin mereka.
Dalam usahanya mengalahkan Ho Chi Minh,
CIA menempatkan Ngo Dhin Diem yang fasistik untuk menguasai bagian selatan. CIA
pun menyebarkan propaganda buruk tentang Ho Chi Minh. Menakut-nakuti orang
selatan bahwa Ho sedang mengerahkan orang-orang utara untuk menyerbu ke
selatan. Informasi seperti ini diharapkan dapat turut memunculkan dorongan dari
warga Amerika agar Amerika secepatnya melakukan tindakan terhadap Ho.
Pihak Komunis memang bersiap sedia untuk
menyerang Vietnam Selatan, sejak sebelum Perjanjian Geneva ditandatangani.
Persiapan ini dibuat sekiranya penyatuan tidak dapat dicapai melalui kemenangan
dalam pilihanraya. Ho Chi Minh memerintahkan beribu-ribu orang agen Komunis
untuk menyusup masuk ke Vietnam Selatan, dan menyediakan tempat tersembunyi
untuk simpanan senjata.
Taktik CIA selanjutnya, yakni pada tahun
1954, CIA memanaskan situasi dengan menjalankan Operasi Phoenix sehingga pemilu
nasional yang direncanakan berlangsung pada tahun 1956, sesuai dengan
persetujuan Jenewa, gagal dilaksanakan. Terdapat 2 pelanggaran terhadap
persetujuan Jenewa yang dilakukan oleh pihak selatan. Yang pertama, Ngo Dhin
Diem, dibawah perlindungan AS melakukan pelanggaran terhadap persetujuan jenewa
dengan menolak berpartisipasi pada pemilu nasional itu. Uni Soviet mengusulkan
pemisahan permanen antara Vietnam utara dan Vietnam selatan, menjadi dua Negara
yang diakui oleh PBB. Usul ini ditolak oleh AS yang tidak mau mengakui Vietnam
yang Komunis. Pada akhirnya diadakan pemilu, namun hanya diadakan di Selatan
dan peristiwa ini menandai terbentuknya Republik Vietnam (dikenal luas dengan
nama Vietnam Selatan) dengan Ngo Dhin Diem sebagai presiden pertamanya.
Pelanggaran yang ke dua terhadap persetujuan Jenewa dilakukan secara langsung
oleh AS dengan mengirimkan penasehat-penasehat militernya untuk melatih tentara
Republik Vietnam.
23 Januari 1973: Perang Vietnam Dinyatakan Berakhir
![]() |
Sumber : www.liputan6.com
|
Di layar televisi, Presiden Richard
Nixon mengumumkan berakhirnya Perang Vietnam. Amerika Serikat dan Vietnam Utara
menandatangani perjanjian perdamaian di Paris, Prancis, untuk menuntaskan
perang terpanjang dalam sejarah Amerika tersebut.
Kepada rakyat Vietnam Selatan, yang
menjadi sekutunya, Nixon menyatakan, “Atas keberanian dan pengorbanan Anda,
Anda telah memenangi hak untuk menentukan masa depan sendiri dan Anda semua
telah membangun kekuatan untuk mempertahankan hak tersebut.”
Sementara itu, kepada para pemimpin
Vietnam Utara, Nixon berujar, “Setelah kita mengakhiri perang melalui
perundingan, mari kita bangun perdamaian dan rekonsiliasi.”
Perang benar-benar selesai secara
efektif sejak Sabtu tengah malam, 27 Januari 1973. Untuk memonitornya,
diturunkan pasukan penjaga perdamaian PBB dari Kanada, Polandia, Hungaria, dan
Indonesia. Tentara terakhir Amerika meninggalkan Hanoi pada 29 Maret 1973. Pada
kenyataannya, sampai beberapa bulan usai kesepakatan perdamaian, bentrok
senjata masih kerap terjadi.
Amerika terlibat perang itu sejak 1967
atau sepuluh tahun setelah konflik berkobar. Mereka berpihak pada Vietnam
Selatan untuk melawan Vietnam Utara yang berhaluan komunis dan disokong
Republik Rakyat China. Sebanyak 500 ribu serdadu Yankees diterjunkan di sana.
Banyak pihak berpendapat, Amerika telah
takluk dalam perang itu dengan lebih dari 50 ribu serdadu mereka tewas. Pada
1976, Vietnam bersatu dan menjadi negara komunis
A. Dampak Runtuhnya Vietnam Selatan
-
Dampak positif
§ Meningkatnya
jumlah imigran
Sebelum tahun 1975,
hanya ada beberapa ribu warga Vietnam yang tinggal di Amerika. Kebanyakan dari
warga tersebut adalah pasangan legal dari warga negara Amerika sendiri,
personel militer yang bertugas di Vietnam Selatan dan pelajar atau anggota dari
lembaga diplomatik Vietnam.
Setelah 30 April 1975,
jumlah imigran Vietnam di Amerika meningkat secara signifikan hingga 150% pada
sekitar tahun 80 dan 90an. Berdasarkan dari jumlah perhitungan statistik lokal
milik negara Amerika, warga Vietnam yang berada di Amerika berjumlah 1,5 juta
orang, masih di bawah Cina yaitu 2,4 juta orang, Filipina sebanyak 1,8 juta
orang, dan India 1,6 juta orang. Namun berada di atas Korea, yaitu 1 juta
orang.
Hal ini secara tidak
langsung membuat warga Vietnam Amerika menjadi grup minoritas terbesar no 4
yang ada di Amerika Serikat. Kebanyakan dari warga tersebut menduduki wilayah California,
Texas, Louisiana dan Maryland.
§ Keberanian
untuk mendapatkan kebebasan
Warga
Vietnam Amerika awalnya pergi dari tanah kelahiran mereka setelah pihak komunis
Vietnam utama menyerang Vietnam Selatan di tahun 1975. Artinya, eksodus
besar-besaran terjadi dengan cara mengarungi lautan di kapal-kapal kecil atau
berjalan melewati tempat peperangan di Cambodia dan Laos pada tahun 1978 sampai
1995. Mereka juga berdatangan di Amerika melalui program pemerintah Amerika
sebagai solusi dari banyaknya warga Vietnam yang mati di lautan atau
hutan-hutan Kambodia, Laos atau Thailand. Banyak warga vietnam yang bertekad
untuk mencari kebebasan dari semua agenda politik.
Banyaknya
data mengenai perjuangan dan pengorbanan warga Vietnam untuk terus melanjutkan
hidup dengan kebebasan dari agenda politik menjadi salah satu karakter mereka.
Bagaimana tidak, mereka harus keluar dari kampung halaman mereka sendiri untuk
menyelamatkan diri. Sebanyak 150.000 warga Vietnam diterbangkan menuju Amerika
dengan ijin dari Kedutaan Amerika. Selain itu, 150.000 warga Vietnam lain
melarikan diri menggunakan kapal diantara tahun 1975 hingga 1978.
§ Kontribusi
Kontribusi warga
Vietnam-Amerika pada negara Amerika tidak hanya ada satu atau dua orang. Sama
seperti imigran lain, warga Vietnam Amerika telah melalui masa-masa penderitaan
dan memulai melanjutkan hidup dengan budaya dan etika kerja untuk beradaptasi
dan mencapai “American Dream”. Hingga saat ini, cerita mengenai bagaimana warga
negara Vietnam bertahan di Amerika dengan hambatan perbedaan bahasa dan budaya
sudah tidak dapat dihitung banyaknya.
Meskipun sampai saat
ini, warga Vietnam-Amerika masih terus berjuang untuk berintegrasi dengan
masyarakat lokal Amerika, cerita mengenai warga Vietnam yang berkontribusi
untuk Amerika sudah bisa tercium harum namanya
-
Dampak Negatif
§ Komunis
Semakin Berkembang
Salah satu dampak yang
paling terasa adalah berkembangnya
Komunisme di berbagai negara di Asia Tenggara, seperti Laos, Kamboja, dan juga
mewabah sampai ke Indonesia. Bisa dibilang, salah satu penyeb terbentuknya
pembentukan PKI dari sejarah terbentuknya PKI adalah kemenangan Vietnam Utara
atas Vietnam Selatan yang kala itu juga dibantu oleh Amerika Serikat, mereka
semakin git untuk menyebarkan ideologi komunis mereka ke negara-negara tetangganya.
Sampai-sampai pemerintah saat oitu mendirikan mendirikan sebuah negara boneka
yang diberi nama Republik Rakyat Kampuchea, yang memiliki fungsi khusus sebagai
wadah untuk memfasilitasi para penebar agama komunis.
Tentu saja, dengan
berdirinya sistem pemerintahan ini, datanglah pihak-pihak yang bertentanga
dengan hal tersebut, dan akhirnya menjadi suatu penyebab pelanggaran HAM
Vertikal dan juga penyebab konflik horizontal bagi masyarakat Vietnam sendiri.
Vietkong melawan masyarakat yang merasa tidak setuju dengan kebijakan tersebut.
Namun sebelum hal itu terjadi , Laos sudah memasuki era komunisme. Hal itu
sudah ditebak terlebih dahulu dengn efek domino yang pasti terjadi. Efek domino
menjelaskan kepada kita bahwa apabila suatu wilayah berhasil dikuasai oleh
suatu ideologi, maka wilayah-wilayah lainnya juga akan merasakan hal yang sama
satu persatu dan dalam waktu yang berurutan
§ Dibentuknya
Gerakan Penghambat Komunisme
Walaupun ini bukanlah
salah satu dampak seperti yang telah terjadi pada dampak negatif Perang Dingin,
namun perkembangan komunism di wilayah Asia Tenggara bisa dibilang
mengkhawatirkan, terlebih lagi mayoritas masyakarat kala itu masih berada pada
kondisi ekonomi yang tergolong bawah, yang sangat mudah menjadi sasaran komunis selanjutnya. Oleh karena itu,
sebagian masyarakat Vietnam khawatir akan itu, dan meyakinkan diri mereka untuk
tidak setuju dengan pemerintahan yang tiba-tiba dibentuk. Hal itu merupakan
kesempatan emas bagi negara-negara anti komunis seperti Indonesia untuk memberikan
dukungan kepada mereka
§ Terjadinya
Pertempuran di Kamboja
Lalu, dari perbedaan
ideologi tersebut, timbullah salah satu penyebab konflik antar agama yang
memberikan dampak konflik agama yaitu adanya peperangan antar saudara di
Vietnam yang terjadi pada negara Kamboja. Pada peperangan ini, yang paling
disorot sebagai salah satu pemicu terjadinya perang ini adalah Pasukan Khmer
Merah, yang melanjutkan perjuangan perluasan komunis pada area Kamboja.
Perjuangan mereka
dihambat oleh Pemerintahan Kamboja sendiri yang saat itu diback up oleh negara
China, dan pihak Vietnam yang dibantu oleh negara komunis terbesar di dunia
kala itu, Uni Soviet. Perang tersebut pun tidak bisa dihindarkan, dan terjadi
kira-kira pada sekitar tahun 1977 sampai dengan 1979.
DAFTAR
PUSTAKA
.2018. Duta Besar Amerika Untuk Vietnam https://id.wikipedia.org
.2018. Dampak Runtuhnya Vietnam selatan https://hukamnas.com
______.2015. Contoh Makalah Mahasiswa Yang Benar Beserta
Pedoman http://ciputrauceo.net
______.2018. Tokoh Tokoh Yang Terlibat Konflik Vietnam
Selatan https://brainly.co.id
______.2018. Sejarah Kelas 12 Latar Belakang Runtuhnya
Vietnam selatan
https://blog.ruangguru.com
______.2018. Perang Vietnam Selatan https://id.wikipedia.org
______.2014. Keterlibatan Amerika Serikat Dengan Vietnam
Selatan https://narasiharibaru.wordpress.com
______.2018. Perang Vietnam Berakhir https://www.liputan6.com
_________________________________________________________________________________
- Muhammad Iqbal
- Elsa Rahmadia
NAMA GURU PENDAMPING
- Lina Muryani S.Pd
Comments
Post a Comment